Masih belum dikatakan “keren” jika bawa motornya masih seperti ini

Jari tidak standby di rem depan

Halo Biker, don’t judge a book by its cover menjadi pembuka untuk tulisan ini. Judul dalam tulisan ini mungkin bagi sobat yang baru pertama berkunjung di blog ini akan terasa aneh dan penasaran, namun bagi sobat yang sudah kenal blog ini lebih lama akan sedikit mengerti maksud tujuan tulisan ini 🙂 Ya gak jauh-jauh dari pesan keselamatan berkendara. Sudah cukup banyak tulisan-tulisan sebelum ini yang Elang sampaikan di blog, semata-mata agar pembaca warung mendapat sedikit pencerahan dan referensi baru tentang teknik berkendara yang benar. Nah via tulisan khusus ini Elang kembali seperti mengulang dengan satu harapan, “bisa merubah 1 point ini saja sudah bersyukur gak usah semuanya”, syukur-syukur point-point lainnya nantinya bisa ikut berubah seiring kitanya mau terus belajar.

Nah apa kira-kira 1 point penting yang ingin dirubah itu? Tulisan ini murni berangkat dari pengalaman Elang bersama tim yang sehari-hari mengajarkan teknik dan pesan-pesan keselamatan berkendara. Timbul pemikiran kok masih saja banyak teman-teman biker dan driver ojek online yang belum bisa berubah dari kebiasaan lama, namun hal ini patut dimaklumi, karena tidak akan bisa merubah habit seseorang hanya dalam 1 hari pelatihan, itu namanya menjual mimpi. Hasil ada rentetan dari sebuah proses yang terus menerus dilakukan, dalam konteks pelatihan teknik bermotor, wajib rasanya si peserta untuk mengasah terus dan berlatih dalam praktik kesehariannya di jalan raya untuk mau berubah ke arah yang lebih baik.

Okey to the point aja biar lebih cepat pesan yang ingin disampaikan. Dari kesekian banyaknya pesan-pesan keselamatan di blog ini, Elang hanya ingin merubah 1 hal saja dalam kebiasaan berkendara selama ini. Tentang bagaimana membiasakan berkendara dengan posisi jari-jari tidak lagi standby di rem depan. Lah memang kenapa rupanya dengan kebiasaan tersebut? Hm..berarti Elang mengulang lagi donk tulisan yang lama, monggo yang belum sempat membaca sebelumnya bisa klik artikel di bawah ini untuk bacaan awal.

http://elangjalanan.net/2016/01/09/jawaban-tentang-kontra-kenapa-jari-tidak-boleh-standby-di-rem-depan/

http://elangjalanan.net/2015/12/28/posisi-riding-posisi-jari-jari-saat-berkendara-motor-yang-ideal/

Intinya anjuran supaya jari tidak standby di rem depan ketika berkendara normal ini sudah baku tidak ada perbedaan dan perdebatan jika menilik berbagai referensi safety riding dunia, secara lokal pun kalau mau ditanyakan monggo ke divisi safety riding AHM atau ke YRA YIMM atau ke operator-operator safety riding lokal lainnya, semuanya sepakat bahwa ada potensi bahaya dari kebiasaan yang satu ini, “bahaya reflek”. Kalau di ilmu agama ibarat tidak ada perbedaan pendapat dari ulama 4 mahzab, semuanya sepakat hukumnya “haram” 🙂

Wis kalau sudah mendapat referensi global yang sudah diriset dari berbagai kalangan profesional tingkat dunia kita sebenernya enak, tinggal pake. Cukup mahfum di kita khususnya, boro-boro punya jiwa riset sesuatu hal/keilmuan, sehari-harinya mayoritas hanya disibukkan dengan aktivitas pencukupan kebutuhan ekonomi sehari-hari, gak sempat mikir hal-hal keilmuan. Semoga ada generasi penerus nantinya yang punya jiwa pemikir, research dan didukung penuh oleh pemerintahan negara, amiin.

Nah kembali lagi ke judul, sindiran “gak keren” semata-mata Elang ingin tunjukkan bahwa kebiasaan riding dengan posisi jari nempel terus di rem depan itu adalah sama saja dengan berkendara sambil berteman/bermain dengan bahaya. Karena mayoritas potensi bahaya terbesar ada disitu. Jika sobat ingat-ingat dulu pernah jatuh atau crash tabrakan, salah satu penyebabnya adalah karena bejek rem depan sejadi-jadinya ketika kaget tidak siap dengan kejadian bahaya di depan.

Jika ditanya alasan kenapa jarinya standby terus di rem depan? Rata-rata jawabnya adalah buat jaga-jaga, siap-siap kalau ada sesuatu tinggal rem! Nah ini yang keliru perlu diluruskan. Jika alasannya adalah untuk jaga-jaga, maka yang perlu dibenahi adalah pandangan, bagaimana pandangan kita bisa membaca potensi bahaya di depan. Pasti masih banyak sobat yang cara berkendaranya pandangan terlalu dekat, bahkan terbiasa nunduk ke bawah terus ngeliatin plat nomor/bemper kendaraan di depan, ini yang perlu dirubah.

Cobalah pelan-pelan melatih pandangan mata lebih jauh kedepan, supaya lebih banyak objek dan potensi bahaya yang bisa dilihat sehingga punya antisipasi lebih awal di jalanan. Misal pandangan sudah jauh, ketika melihat potensi bahaya misal angkot berhenti tiba-tiba, sobat sudah bisa membaca, menganalisa dan memutuskan manuver untuk menghindar.

Bagaimana barometer pandangan kita sudah jauh ke depan? Simpelnya kalau lagi di jalanan lihatlah 3-4 mobil/kendaraan terdepan. Nah kalau sudah terbiasa berlatih pandangan jauh kedepan, secara bertahap sobat sudah tidak perlu lagi bergantung dengan “jari harus stanby” di rem depan untuk jaga-jaga, karena fungsi antisipasi/jaga-jaga sudah dikerjakan oleh pandangan jauh mata kita.

Elang sadari kebiasaan ini memang sudah menjadi habit lama sejak awal dulu kita bisa naik motor, terus berlangsung selama belasan bahkan puluhan tahun tanpa ada yang merevisinya. Sekarang via blog ini, bukan bermaksud menggurui atau mengajari namun Elang mencoba menyampaikan ilmu/referensi yang insyaallah bermanfaat untuk seterusnya bagi pemotor khususnya, untuk meminimalkan potensi bahaya dari aktivitas berkendara itu sendiri yang sudah kadung beresiko tinggi.

Mau berubah? Bisa karena biasa, merubah kebiasaan lama yang sudah bertahun-tahun bisa selama ada kemauan. Elang juga sama awalnya melakukan kebiasaan yang keliru, namun begitu tau referensi yang benar dan mencoba serta membiasakan terus setiap hari, alhamdulillah dalam seminggu sudah bisa “jari tidak standby di rem depan” alias berhasil move on.

Mau donk kualitas teknik berkendaranya lebih meningkat gak stagnan begitu-begitu aja dari dulu. Seperti paragraf pembuka di awal tulisan ini, bisa berubah 1 point saja sudah alhamdulillah. Motor sudah keren tapi cara bawanya belum keren karena masih nyaman dengan kebiasaan lama yang turun temurun.

Semoga tulisan ini cukup bermanfaat bagi sobat pembaca setia warung ini, mari berdiskusi sehat di kolom komentar 🙂

POPULER

78 Komentar

  1. Hmmm. Saya seumur2 berkendara dengan jari telunjuk standby. Karena terbiasa gunakan rem depan buat rem. Fungsinya untuk mengurangi kecepatan bila ada traffic didepan. Bukan untuk menghentikan laju. Bila ada panic braking pasti rem blkg dulu yg dibejek baru rem depan. Semua tergantung dari feelling berkendara. Kalo orangnya kagetan ya jangan. 😁😁😁

  2. kalo saya sih standby kadang jari 1 kadang jari 2 pak endrik. kalo menurut pribadi ya. pengereman mendadak dengan menggunakan rem belakang saja. biasanya bikin ban lock brake, jatuh gara2 lock brake biasanya bikin babak belur.

    kalo menurut saya sih kembali ke gaya ridingnya. kalo kecepatan dibawah rata2 rider lainnya, sering2 ngecek spion aja ( biar ngga motong jalur motor dari belakang ). kalo kecepatan diatas rata2 kayaknya wajib standby rem menghindari emak2 belok mendadak ( pengalaman pribadi )

  3. Saya tipe orang yng ga bisa fokus, pandangan saya kadang kedepan, kanan kiri malah jarang liat bawah. Kalo ada lobang ga begitu besar pasti kelibas. Hahah
    Menanggapi jari di tuas rem depan saya justru sangat membantu mas. Dengan penglihatan yang jauh dan membaca keadaan. Kadang kala memang ga bisa di hindari jika hanya rem belakang dan manuver alhamdulillah sampai saat ini dan semoga di jauhkan dari kejadian blm pernah mengalami hal yang tidak di inginkan. Hanya sekali nabrak teman sendiri yang berhenti mendadak itupun karna ban depan slip ksrna ada bekas plastik siomay di jalan wwkwkwk.
    Malah teman yang memang saya perhatikan dia jarang banget jarinya standby di tuas rem depan ga sempat rem mendadak padahal kecepatan hanya 20-30kpj akhirnya nabrak orang yang tiba2 lewat depan mobil mau nyeberang malah refleknya klakson.

    Jadi menurut saya mungkin mengikuti instruksi seperti itu memang penting, tapi lebih pentng bagaimana kita berkendara dengan senyaman nyamannya. Dan akan sangat baik jari di tuas rem depan bagi rider yang Bisa mengontrolnya.

    • nice comment kang, fokus itu memang penting dalam berkendara, 1 detik kehilangan fokus wis fifty-fifty antara selamat atau celaka 🙂

  4. Kalo menurut ane sih lebih safety kalo pegang rem nya 4 jari kayak pegang kopling.. Tapi yg ngerem bukan jari telunjuk sama jari tengah melainkan jari kelingking sama jari manis.. Coba deh, lebih empuk dan nggak bikin motor kaget.. Ya untungnya selama pake metode itu ane belum pernah kecelakaan gara” ngerem ndadak..

    • referensi teknik pengereman menggunakan jari kelingking dan jari manis memang pernah saya dengar, pengen juga sekali-kali mencoba referensi baru ini.

    • setelah saya baca tulisan saya berulang-ulang, memang ada sedikit perulangan, penambahan kata dan klausa atau /, jadi ada benarnya juga terkesan bertele-tele..

      hehehe..dimaklumin aja kang, mungkin kemarin nulisnya sambil semangat penuh greget 🙂

  5. Dgn kondisi jln kampung yg turun naek,bulak belok & licin sya rasa posisi hari d hendel rem depan bisa membantu.klo cuma ngandrlin rem belakang saan turunan tajam malah bahaya bro.bisa2 mtr nyelonong ke sawah,jdi menurut anne sh tergantung feeling si biker.cmiwww

    • tulisan ini baru mengulas 1 point dalam teknik defensive riding, contoh-contoh case prosedur melewati berbagai kondisi juga diajarkan disana.

      namun tetap kebiasaan jari standby di rem depan memiliki potensi bahaya tersendiri, yakni bahaya reflek

  6. berdasarkan pengelaman saya kalo bawa motor nya lago kebut”an/racing/trek pendek: jari standby di rem
    kalo untuk touring jarak jauh sangat tidak disarankan jari standby di rem karena akan menyebabkan pegal pada tangan.

  7. Sudah lebih 20 tahun saya berkendara jari tangan selalu standby karena sebelum ada sistem pengereman combi brike seperti sekarang saya sudah melakukannya secara manual sejak dahulu.
    Apa yang sudah disepakati secara global belum tentu efektif pada kurun waktu yang berbeda.
    So….jari standby di tuas rem depan justru bukti sang pengedara sangat memperhatikan faktor keamanan dan lebih siap menghadapi hal tak terduga, sepertinya penulis kurang dalam melihat realitas kekinian dari berbagai perspektif.

    • saya sebelumnya 13 tahun pengalaman berkendara dengan habit yang sama (jari standby) lalu ketika masuk referensi dari teknik safety riding ini, menerimanya sedikit agak aneh dan ketika dicoba berlatih membiasakan terus ternyata bisa menemukan kliknya bawa motor disitu, lebih nyaman jari tidak standby di rem depan.

      ohya saya juga setiap harinya wara-wiri jalanan Jakarta kurang lebih 100km setiap harinya PP.

  8. Kalo untuk berkendara dijalanan yang macet, malah harus standby jari pada tuas rem, kalo di dalam lorong juga begitu, banyak orang yg keluar masuk, dijalan yang banyak persimpangan juga harus standby kalo gak bisa celaka kalo ada yg tiba2 berbelok, kalau lalu lintas memang sangat tertib itu bisa dipraktekkan, tetapi kalau dalam lalu lintas yg gak karuan otomatis kita harus sigap menanggapi ya dengan caraharusbselalu standby tadi, apa lagi kalo tinggal di jkt gak standby bisa parah akibatnya, terkecuali kalo lewat jalan lintas yg lengang dan bypass, kayak kata pepatah lain lubuk lain ikannya

    • untuk antisipasi jalanan macet di kaedah defensive riding sudah ada prosedurnya sendiri kang, yakni bagaimana pandangan jauh ke depan, rajin cek kaca spion dan menjaga fokus selama berkendara.

      saya yang kesehariannya menerapkan di jalanan ibu kota terbukti “It works” bisa relax membelah kemacetan tanpa jari harus standby

  9. Sejak saya mendengar teori ini saya mulai berusaha memahami dan mepraktekkannya..so far memang berguna dan benar, namun pada saat tertentu di mana traffic sedang padet banget saya rasa jari standby tetep terasa lebih safety. Tau sendiri jalanan kota di indonesi yang semrawut dan suka selonong boy semau sendiri.

  10. Pembahasannya muter muter, bertele tele, gak sistematis
    Walaupun ane ngerti maksud dan tujuannya, tetep aja tulisannya semerawut

  11. Numpang komen dari salah satu murid ni.. hehe

    KLo menurut ane mah om mending standbye, bisa dikatakan safety karena kan namanya di jalan kadang2 ada aja kendaran lain yang tau2 nyelonong nyalip gak pake pikir panjang tau-tau “jleg” aja motong jalan kita *pengalmaan pribadi disalip dadakan tanpa ngasih klakson… hikzz 🙁

    terus posisi telunjuk dan jari tengah di tuas rem (atau apalah itu istilahnya hehe) ini lebih cihuy klo jalan di daerah perumahan (gak mesti komplek sih 😀 ) yang banyak bocah kecil pada nyelonong nyebrang (you know lah, namanya jg anak kecil liat jalanan tapi gak liat ada yg jalan tau2 main nyebrang aja… hehe)

    • agak dibedakan Wim antara jari standby dengan teknik jari ketika mengerem. nah menyadari kondisi jalanan yang sama-sama tau sering ada yang selonong boy coba pindahkan fungsi antisipasi dari jari yang harus standby berubah ke bagaimana pandangan kita terhadap situasi jalan, pembiasaan pandangan jauh ke depan lebih banyak membantu Wim..kekuatan berkendara sesungguhnya ada di pandangan

      • Saya setuju sama penjelasan mas elang. Hal utama yang sering terlupakan sama kita malah sebenarnya pandangan kita. Kalo kita bisa memandang lebih luas dan lebih jauh, kita bisa lebih relax dan memiliki waktu antisipasi, ditambah memberikan jarak aman (walaupun dikata Jakarta harus mepet2 utk kompetitif), maka kita bisa terapkan posisi jari tangan kita seperti penjelasan diatas dgn lebih baik.
        Berkutat di perdebatan perlu-tdk perlu, aman-tdk aman ttg posisi jari tangan saja ya yang ada hanya pro dan kontra. IMHO

  12. Pengalaman ane baru 5 tahun berkendara, tangan selalu standby di rem depan pada saat macet/jalan kampung/jalan padet/banyak tikungan apalagi sekarang ban motor ane licin(bawaan pabrik) jadi sering” standby di rem depan, cuma kalo trek lurus seringnya ga pernah pegang tuas rem. Jadi menurut ane standby di tuas rem sangat penting terutama pas di jalan “semrawut” ,tapi ya balik ke kenyamanan masing” rider sih..

    Btw, tulisannya bertele” mas mending langsung to the point nya aja biar ga males baca..

    • kadang kenyamanan itu didapat karena faktor kebiasaan, sudah terbiasa jari standby ya wajar menganggapnya itu sudah nyaman, namun sekedar share saya juga dulunya 13 tahun berkendara dengan habit yang sama, ketika dikasih referensi baru tentang jari tidak standby di rem depan awalnya memang aneh, kepala ini susah menerima logika dari instruktur tapi begitu dicoba terus setelah seminggu alhamdulillah bisa berubah kebiasaannya.

      Dan kini ketika saya mencoba kembali riding dengan jari dibikin standby kayak dulu, eh malah balik kagok 😀 berarti kenyamanan itu sudah terbentuk karena kebiasaan.

      thanks masukannya kang untuk artikel, edisi artikel kali ini memang banyak yang komplain agak bertele-tele, Elang terima masukannya dan jadi menambah ilmu lagi nih buat memperbaiki tulisan di next artikel

  13. Berarti saya cukup adil ya hehehe, ketika macet atau dalam kondisi ramai lancar 2 jari saya otomatis standby dengan sendirinya di tuas rem depan agar control kita lebih terjaga , dalam keadaan jalanan kosong dan ingin menarik tuas Throttle lebih dalam dengan sendirinya semua jari menggenggam stang dengan penuh Fokus dan Control hehehehehe,
    soo Ambil sisi positifnya artikelnya jossssssss, Salam satu aspal .

  14. kalo sya malah belajar pke rem depan buat ngerem, kalo pke rem belakang mw jalan pelan ato ngebut fasti seliip soale suka ngerem dadak pke rem blakang.
    skr pke rem dpn aja suka sya kayak moto gp 😀

  15. nggak setuju sama yang tulis artikel.. standby begitu punya banyak keuntungan untuk refleks nge-rem dadakan..

    suatu ketika saya pernah mau melambung dari kanan ada mobil di sebelah kiri yang tiba2 berhenti, ternyata ada pejalan kaki yang mau nyebrang bukan pada tempatnya dan sambil berlari.. dengan kecepatan tinggi mau melambung, refleks ngerem masih sempat tepat didepan orang yang mau nyebrang.. itu kurang dari stengah detik. kalau tangan posisi genggam full saya yakin nggak keburu.. maaf bro nggak setuju dengna tulisan yang muter kesana kemari dengan argumen alasan yang nggak terlalu kuat..

    • sebenernya dalam kaedah defensive riding tidak ada lagi istilah “rem mendadak” kang, karena defensive riding mengajarkan bagaimana kita berkendara terhindar dari masalah, kalau sampai terjadi rem mendadak berarti kita sudah masuk ke zona masalah.

      iya kang edisi artikel kali ini memang banyak yang komplain bertele-tele, koreksinya berguna banget buat kemajuan tulisan-tulisan berikutnya, suwun.

  16. Teori macam apa itu masa bawa motor tangan g harus siap. Apa harus kecepatan 100km dlu baru jarinya siap untuk ngerem.

  17. menurut saya, sebaiknya kembali ke riding style masing². karena kalau kita nyaman berkendara pasti akan aman dalam berkendara.

  18. kalau menurut saya penulis membahas berdasarkan teori baik dari internasional maupun dari lokal (HONDA dan YAMAHA) tapi penulis lupa, dalam dunia akademik teori tidak berlaku absolut. karenanya memungkinkan ada perubahan dan modifikasi teori yang sah apabila ada keadaan yg kontra teori. seperti pengalaman teman2 di atas itu sdh dapat dijadikan bahan perbaikan dari teori yg diusung penulis

    • betul kang, teori selalu mengambil kondisi “ideal” sementara dalam praktiknya di lapangan bisa berubah-ubah.

      beberapa argumen komentar di atas lebih banyak mengambil kondisi jalanan ibu kota yang semrawut dan macet, kalau boleh sharing saya pribadi yang sudah menyadari potensi bahaya dari kebiasaan jari standby di rem depan, tidak ada perbedaan sikap menghadapi jalanan macet maupun jalanan lancar khas luar kota. justru kualitas riding menjadi lebih nyaman dan rileks ketika jari sudah terbiasa tidak standby di rem depan.

  19. Yach mau nyoba g ada salahnya…ane biasa standby satu jari soalnya buat ngurangin kcepatan ajach…klo kepepet kebiasaan ane malah engine break…kbiasaan dr msih pke motor bebek…tp coba pelajaran baru sich selama berfaedah ane coba

    • idem, belajar dari pengalaman saya dulu juga sama persis, menganggap referensi ini barang aneh, gak lazim, tapi setelah dicoba diubah kebiasaanya ternyata baru bisa merasakan kliknya naik motor disitu, lebih rileks.

      jangan melupakan juga kebiasaan pandangan jauh ke depan dan tetap menjaga fokus itu penting.

  20. Sebenarnya dlm praktek dan teori bs saling beriringan dilakukan,, apalagi jika kt melatihnya dlm wkt yg berulang2,,dan menurut pendapat sy yg tinggal di sby tiap pagi dan sore yg sll bertemu kemacetan,keruwetan,serobot sana sini sy lbh prefer utk jari telunjuk saja yg standby di handle rem (bila ingin mengerem hny ditekan sekali/dua kali dalam tempo yg singkat/tdk ditahan lama),,nah berbeda bila dlm perjalanan luar kota yg sering bertemu jalur kosong saya jarang meletakkan jari sy di handle…
    oya tulisan di artikelnya tll bertele2 om, jujur sy males bacanya hanya baca 2 paragraf terakhir dan inti dr pokok pembicaraan…mgkin lbh baiknya dimasukkan foto/gbr agar yg membaca tdk jenuh liat tulisan2nya CMIIW.

    • siap kang, edisi artikel kali ini memang banyak yang komplain bertele-tele, mungkin kemarin saya menulisnya dengan penuh semangat bercampur dengan perasaan greget 😀

  21. Saya salah satu orang yg terbiasa dgn jari standby di tuas rem kanan. Memang utk jaga2, tapi seperti yg dibilang kawan diatas kembali lg ke riding style masing2. Sy pribadi, rem belakang tetap jd yg utama dalam pengereman, dan rem depan hanya sebagai pembantu. Hal ini bisa sangat membantu saat harus rem mendadak karna ada ibu2 lampu sen kiri tiba2 belok ke kanan *umpama…* tapi hal ini bila jalan dalam kondisi normal, bila jalan licin krna hujan atau karna ada taburan pasir memang lebih baik jari2 tidak standby di tuas rem kanan dan kurangi kecepatan.

  22. 20 taon jari kanan standby, klo diubah pasti kagok… yg bikin teori ini hrusnya test drive d semua jalan, terutama jalanan di ibukota dengan sejuta keruwetan, … lebih efektif standby sy rasa. ibaratnya, setir mobil yg biasa dikanan pindah sebelah kiri, bgitu juga biasa nyupir dsisi kiri pindah ke sisi kanan,… pasti kagok..haha
    buat sy gmana kebiasaan aja sih… mgkn buat pemula bolehlah pake teori ini, tp buat dedengkot motor rasanya kok sulit yah.. cmiiwww…

    • idem kang, saya juga awalnya sama sulit menerima referensi baru ini, terasa aneh dan kagok mempraktikkannya. namun setelah mau mencoba merubah, setelah seminggu bisa berubah kebiasaannya dan jujur kebiasaan baru ini meningkatkan riding quality, lebih rileks.

      pernah iseng coba-coba kembali ke gaya lama, eh malah balik kagok 😀

  23. Bertahun-tahun saya berkendara secara “otodidak” tanpa ada yang mendidik. Sudah merasa pintar dan benar.

    Sampai 3 bulan kebelakang mulai mengenal YRA. Beberapa kali sesi pertemuan dijejali basic skill, teknik awal berjalan dan berhenti yang benar, teknik masuk dan keluar tikungan yang benar.

    Awal-awal penerapan teori ke berkendara sehari-hari amat kikuk, ga terbiasa, dan takut.. Karena sudah bertahun-tahun terbiasa jemari siaga dihandle rem dan kopling.

    Namun terus saya paksakan untuk menerapkan teori. Awal-awal cuma berani jalan maksimal 60KM/H meski kondisi jalan sepi, jalan lumayan panjang dan lengan seperti Depok – Bogor. Selang beberapa minggu mulai paham dan terbiasa.

    Dulu jalan berani push sama mepet motor / mobil didepan, karena merasa aman akibat jari standby di tuas rem. Namun ternyata itu pandangan yang salah. Cara berkendara yang enggak sesuai dengan prinsip2 safety riding.

    Kini saya sudah terbiasa berkendara dengan rilex. Kaki kanan bebas dari pijakan rem belakang, jemari puas menggenggan handle bar secara utuh. Mulai bisa membaca situasi, pandangan jauh kedepan. Disini lah yang harus dipahami, mengapa dalam teknik safety riding tangan tidak dibenarkan selalu standby di tuas rem dan kopling?
    Karena dalam prinsip safety riding tidak ada istilah “kalau mendadak”. Safety riding itu merupakan tindakan pencegahan. Kalau mau lewat persimpangan jalan ya melambat lihat kanan kiri depan, ada angkot mau berhenti dari jarak2 yg sudah kita prediksi ya mulai ancang-ancang ambil keputusan.

    IMHO CMIIW
    🙂

  24. Setuju bro.
    Tapi harus dimulai dari saba, jaga jarak, dan jaga kecepatan juga. Kalau gaya berkendara masih aggressive, mau menang sendiri model road race anak abg, berantakan pastinya.
    Lanjutkan dan lengkapi dengan link teknik lainnya bro. Mari kampanyekan safety riding.

  25. Dulu pernah mencoba menerapkan teori ini, tapi karena memang menurut saya ga nyaman ya saya tinggalin. 95% komentator kontra terhadap pemaparan ini hehe

  26. Sangat bermanfaat….mungkin bagi bikers yg belum terbiasa akan menganggap hal seperti ini sepele.. padahal jika kita mau menganalisa , jari standby di handle rem memang menimbulkan bahaya…seperti saat kaget ketika ada bahaya dadakan ….tiba” tangan reflek menekan tuas rem sejadi-jadinya sehingga mengakibatkan rem depan mengunci sebelum sempat mengimbangi dengan rem belakang….alhasil motor terbanting mengakibatkan kecelakaan.

    beda saat tangan tidak standby di tuas rem, saat ada yg nyebrang dadakan/memotong jalan, secara otomatis reflek kaki akan lebih dulu menginjak pedal rem belakang , dilanjukan tangan untuk mengimbangi dengan rem depan…alhasil pengereman akan jauh lebih seimbang…

  27. soalnya jujur aja pernah nyoba nggak stand by dan respon kurang cepat.. untuk itu stand by 1 aja karena 1 pun nekan nggak kuat.. atau kebiasaan ya.. 🙄

    oya, ditunggu ganti gravatar dan headernya kang.. biar kampanyenya semakin mantabh dengan contoh yang bener.. 😀

  28. Kalo saya emang kebiasaan buruk gk stand by dituas rem karena jalanan yang saya lewati biasanya masuk kota keluar kota, saya memang tidak suka jari siap di tuas rem. Karena pegel kalo lama lama, soalnya gk relax lengan memegang stang selama berjam jam. Cukup yang fokus pandangan aja. Jari mengikuti saja. Jari stand by saat akan ngerem saja. Yang biasanya rem mendadak berarti kurang fokus pandangan jauh. Fokus jarak jauh bukan hanya depan saja, tapi pojok kanan depan, dan pojok kiri depan.

  29. Kalau sy standby di tuas rem hanya jika jalan macet/merayap,tp jika jalanan lancar tdk pernah standby di tuas rem..full di stang kemudi

  30. Saya setuju mas dengan teorinya.. dengan safety riding, berkendara lebih nyaman, aman, dan rileks..

    Sayang sepertinya banyak yg kontra dengan artikel ini, mungkin dengan penulisan yg lebih baik pesannya akan lebih kuat lagi tersampaikannya..

    • Kalo saya sih tangan standbye dituas rem biar bisa jaga2 agar engga ngerem sekaligus. Kalo caranya pengen keren ya engga usah pake rem depan aja biar engga ribet wkwkwk

    • yang baik itu belum tentu benar. beda kepala beda pemikiran. kalau saya lebih nyaman dan aman serta rileks kalau jari tangan nempel di tuas rem, jadi gak kagok kalau mau rem.

  31. kenapa banyak yang kontra ya, padahal dinasihati yang baik… saya lihat dijalanan hampir 90 persen jarinya pada standby, apa ga cape gitu ya… mungkin diajarinnya kaya gitu dulu kali…

  32. kalau saya dari awal punya motor kopling, jari tangan saya selalu nempel di tuas rem depan, mungkin karena kebiasaan dari awal sehingga sampai saat ini lebih safety dan lebih nyaman jari tangan nempel di tuas rem. jadi intinya itu….. mau jari nempel maupun kagak di tuas rem depan yang penting kita selamat dan tidak melanggar peraturan lalu lintas. aku pikir lebih keren jari tangan nempel di tuas rem… kelihatan laki banget.

  33. Imho, Untuk kondisi jalan ideal (lancar, jarak antar kendaraan relatif terjaga) tehnik ini bisa untuk saya praktekkan.
    Tapi begitu masuk jalur padat dan merayap atau stop and go, langsung wassalam.
    Apakah rem saya masih pakai teromol, bisa dipastikan nyundul motor di depan saya bisa tangan saya nggak standby. 😀

  34. saya si lebih enak jari dua standbay secara tidak langsung jika da sesuatu kita bisa replek atu langsung mengerem cuman si ada ke khawtiran jika seumpama nya kaget bisa jadi fatal klw kecepepatanya di atas rata- rata jdi..
    Hati-Hailah dapalam berkendara kecepatan sedang mauput cepat… fokus & kontrol apa yang kita lagi lakukan pada saat itu juga.. hehehe

  35. Saya sudah coba sendiri. Dulu saya tidak taruh jari di tuas rem. dari pengalaman itu saya tahu sendiri bahayanya kalau jari tidak ditaruh di tuas rem. bingung cari tuas rem nya dimana, lalu begitu ketemu sering menekan terlalu kencang.

    Menaruh jari di rem jauh lebih aman.

    Klaim soal kalau jari di taruh di rem itu bikin ngerem terlalu keras itu hoax. Nggak masuk akal. Memang seberapa kuat sih satu jari di tuas rem bisa menarik remnya? Akan jauh lebih ekstrem kalau orangnya nggak menaruh jari di rem.

    Yang diajarkan di safety riding juga belum tentu benar. Apalagi yang mengajarkan mendahulukan pemakaian rem depan. Sudah banyak yang celaka termasuk salah satunya kasus R25 terperosok yang bikin Ayla terbang. Jelas gara gara pakai rem depan duluan.

  36. Ikutan comment ah …
    Klo aku lebih ke kondisi sih bang, klo macet / padat merayap sering standby. Soalnya bener2 deket.

    Klo jarak jauh luar kota semua jari stay di handle gas, pegang penuh kendali n lebih rilex. Klo panic brake seringya belakang dulu baru depan n pasti di remes ?? dengan teratur

    • Kalau macet udh pasti masih dalam kecepatan rendah, kontrol masih lebih baik dengan rem belakang tidak perlu sering turun kaki, asal kondisi rem belakangnya masih sehat

  37. karna kebiasaan, mo macet atao lenggang, tdk pernah menarih jari di tuas rem. reflek mengerem juga tdk saya rasakan berkurang (misal ada kucing tiba2 nyebrang. dalam kondisi macet dan ruwet banyak yang nyelonong, saya lebih mengutamakan peka dengan suasana terutama jarak pandang dan posisi kendaraan dan dalam kondisi tertentu mengalah lebih utama…..

  38. contoh buat septi rata2 low speed 2-digit (misal: di jkt). gmn mau high speed di jkt wong macet terus

    coba tuh orang2 septi suruh nongol siang ari ke kampung saia (kota kecamatan kecil pinggir jln lintas propinsi) biar liat sendiri the REAL jungle
    -anak SD semotor bertiga 80-100 kpj sambil ngudut ketawa2
    -truk kosong segede kingkong ngabisin jln di tengah kota gaspoooll 120+ kpj
    -omprengan 150+ kpj bawa yg jualan rebutan lapak di pasar kota sebelah. kurang 150 kpj supir DITIMPUK penumpang ga kebagian lapak
    -ojek/alay2 balapan pk 2tak modif ga tau berapa kpj. yg udh lama balap bisa ngerem sambil machine-gun-shifting 5-1. motogp lewattt
    -ngelakson=balapan. supir angkot mahir maen tiga pedal sekaligus bersamaan. fast&furious lewattt
    -emak2, anak2, pa ogah, kucing, tikus sawah nyebrang ga liat2 walau mobil berseliweran. HULK aja GA BERANI nyebrang sembarangan di sini

    pandangan/antisipasi/pelan2/depensip/dll goes to hell om kl udh ada yg nongol 120 kpj dr tikungan 40 meter di dpn. otomatis cuma refleks rem+ngepot+doa yg menentukan… or die… sumfeeehhhh…

    standby=refleksngerem=nyungsep=puskesmas

    GAstandby=telatrem=kesamberomprengan/anak2=tewasditempat/nahlho

    #pilihstandbyempatjari #kalotewaskasianemak #blomkawin

  39. hmm.. gimana yah.. udah kebiasaan sih mas taru jari di rem depan, dan rem mendadak itu hitungannya persekian detik, justru, menurut saya, klo kita gak taruh jari direm depan, peluang nabrak lebih besar, karena butuh persekian detik untuk jari meraih pedal rem baru ngerem, dan pengereman yang seperti ini, biasanya kurang terkontrol bejekannya, lain jika tangan kita standany di pedal rem, kita masih bisa kontrol bejekan rem tersebut.. (itu menurut sayaaa) 🙂

    • kuncinya ada di pandangan, coba dilatih pandangan lebih jauh kedepan saat berkendara (scanning) mudah-mudahan akan mulai pede riding tanpa jari nempel di tuas rem 🙂

      pengereman yang baik adalah yang terencana bukan karena gerak reflek jari

  40. Sy dr awal tahu bawa motor sampai sekarang memang gak pernah kasi standby jari di rem depan. Karena terasa kurang maksimal mengontrol pergerakan motor melalui stir kalau telapak tangan gak penuh pegang grip karet. Alasan ke 2, sy ngerasa hebat bawa motornya karena setelah sy perhatikan di jalan sebagian besar orang memang kasi standby 1, 2 atau 3 jari di tuas rem depan.

  41. Saya pernah trainning DDT, saat diterapkan saat berkendara maka tidak kita temui ‘panik’ karena sudah ada acuan yang benar dalam berkendara. Bahkan setelah tes bersepeda motor di AHM, saya juga yakin bahwa dengan berkendara yang benar, kita terhindar dari ‘panik’. Jadi saya sependapat dengan tulisan ini.

    • Betul, bahkan kalau sudah terlatih fokusnya dan punya pandangan jauh kedepan gak ada istilah lagi ngerem ‘dadakan’ apa-apa serba dadakan, tapi semua terencana

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*