Beranda Opini Apakah bijak melarang Taksi Online?

Apakah bijak melarang Taksi Online?

0

Taxi Online

Ketika draft posting ini ditulis, para supir taksi sedang mau demo yang kedua yang akan dilakukan hari Selasa, 22 Maret 2016, mereka menolak hadirnya Taksi Online yang dianggap merugikan dan menurunkan penghasilan mereka, salah satunya karena tarif taksi online yang lebih murah. Padahal justru saat demo dan sulit mendapatkan taksi regular, ini menjadikan kesempatan baik bagi Taksi Online atau Taksi Aplikasi untuk beroperasi. Saat ini, ketika saya melanjutkan posting, keadaan sudah berkembang, keberadaan Taksi Online tetap diperbolehkan, tapi armada taksi online tidak bisa bertambah. Jadi istilahnya status quo karena pemerintah pun saat ini masih bingung, dilarang atau tidak?

Saya sendiri cukup sering menggunakan taksi, hampir setiap hari kerja untuk makan siang, biasanya saya dan teman-teman beramai-ramai pergi ke tempat makan menggunakan taksi. Kelihatannya boros, tapi kalau dihitung, jika menggunakan mobil pribadi selisih biaya nya tidak begitu jauh jika dibanding menggunakan taksi, mobil pribadi harus keluar uang parkir dan bensin.

Grab Car

Untuk Taksi Online, saya baru mencoba dari Grab, dengan mobil Livina, Avanza dan Ertiga, semua mobilnya masih terbilang cukup mulus dengan kondisi normal, alias tidak rapih-rapih amat, tapi juga tidak ancur-ancuran. Saya pernah bertanya ke driver soal penghasilan mereka, satu orang driver mengaku dalam satu hari mendapat penghasilan 600-700 ribu perhari secara hitungan kotor, penghasilan narik taksi akan dipotong bensin yang dia keluarkan, perhari sekitar 200 ribu. Dalam satu hari dia melakukan 10-14 trip perhari, saya kira ini termasuk driver yang rajin. Ada juga adik teman yang “narik” taksi, saya pernah dikasih lihat report bulanannya, penghasilannya dalam 1 bulan adalah 11 juta, penghasilan itu didapat dari 199 trip. Si adik teman saya ini lulusan S1, tapi karena belum ketemu pekerjaan, dipinjamkan mobil oleh kakaknya untuk dijadikan taksi, hasilnya setelah dipotong bensin dibagi dua. Si kakak untung karena mendapat penghasilan, si adik juga untung, sama-sama untung, mantap!

Pemesanan GRAB Car

Bagaimana dengan taksi reguler? Biaya taksi memang lebih tinggi, karena mobil taksi dengan plat kuning ada KIR nya, drivernya pun juga ada biaya pelatihan, mungkin ada juga asuransi kesehatan, jiwa, serta tunjangan ini itu, SIM si driver taksi reguler pun bukan A polos, tapi harusnya paling tidak A umum, kalau tidak salah beberapa perusahaan menanggung biaya pembuatan atau perpanjangan SIM. Belum lagi si driver pasti sebelum menjadi taksi ada proses screening dulu. Ditambah lagi fasilitas, ya pooling kendaraan, bengkelnya, radionya, bangunannya, ijin usaha. Itu duit semua, business cost. Kalau kata supir taksi, coba lihat saja nanti armada GRAB ketika usianya sudah 2-3 tahun, bagaimana pemeliharaannya? Mungkin bakal mirip dengan taksi kuning atau Presiden Taksi jaman dulu yang dipunyai pribadi dan akhirnya kalah bersaing dan hilang.

Bon Grab Car

Kalau tanding dengan taksi online secara harga tidak mungkin, pasti kalah. Biaya tinggi itu juga sebagan di berikan ke pemerintah, untuk memenuhi aturan. Yang nanggung? Bukan perusahaan taksinya, tapi ya si pengguna taksi tentunya. Kalau llihat ke aturannya saja harusnya tidak boleh ada kendaraan umum yang di samarkan jadi kendaraan pribadi, tapi si aplikasi ini berlindung, disamarkan sebagai “mobil sewaan”. Pengelola aplikasi berkata, mereka sebatas penyedia aplikasi saja, mereka merasa tidak bertanggung jawab atas bagaimana digunakan si aplikasi tersebut. Mungkin mirip seperti PLN atau PAM, perusahaan hanya sebatas menjadi penyedia saja, apakah si listrik atau air dibuat untuk kegiatan apapun bukan tanggung jawabnya si PLN atau PAM. Bingung? Jangankan saya, pemerintah saja pun sekarang masih belum sepakat untuk memutuskan apakah taksi ini ilegal atau tidak.

Undangan Mitra GRAB Car

Kalau para pengguna taksi ini pasti membela si taksi Uber atau Grab, karena memang biayanya lebih murah, siapa sih yang nggak mau murah? Waktu saya naik bersama teman-teman kantor yang wanita, para wanita itu melirik terus ke drivernya, naksir! Baru naik senyum-senyum, sampai pada kode, whatsapp whatsapp, hadehhh. Jadi ada harapan juga bagi para wantia untuk mungkin-mungkin saja mendapatkan jodoh, mungkin pengusaha, karyawan yang menyambi jadi supir taksi online.

Jadi dilarang atau tidak?
Secara usaha sangat tidak fair kalau taksi online dibiarkan, ini persaingan tidak sehat, si taksi reguler yang mengikuti peraturan, bayar pajak ke pemerintah, bayar ijin justru terbebani dan juga tidak dilindungi oleh pemerintah. Tapi semua orang mau murahnya taksi online, mau taksi yang muat banyak, jadi? Mesti keluar lagi aturan yang mengatur supaya persaingan bisa sehat, mestinya taksi tidak terlalu mahal seperti saat ini, maunya sih tarif taksi reguler di buat semurah taksi online! Kelar bukan? He he he.

Grab Car

Tapi …
Beberapa bisnis memang mau tidak mau berubah gara-gara online, mulai dari media dotcom yang secara perlahan memakan porsi media cetak tradisional, mal dan toko yang digantikan online, belum lagi kalau mau diruntut, pos dimakan SMS dimakan BBM dimakan Whatsapp dan mungkin sekarang ada line, telegram, kakao, inilah itulah, memang model bisnis selalu berubah. (Saranto)

Silahkan bersilaturahim dengan saya melalui channel media lainnya:
Hosting Supported by: Serverumat.Com
Web Blog : http://elangjalanan.net
Otomotif Blog (SEO Optimized) : http://elang.otojurnalisme.com
Email : staffti[at]gmail.com
Facebook : https://www.facebook.com/elangjalanannet/
Twitter : @yahmawan
Instagram: @endrikelang
Subscribe Youtube: https://www.youtube.com/ElangJalanan

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here