Setelah 71.000km, bagaimana performa kanvas kopling NJMX?

bukit pelangi

Salam sejuta umat, weekend ini EYD melakukan solo riding ke beberapa titik alternatif kawasan Puncak, seperti rute favorit EYD yakni melewati Bukit Pelangi Sentul. Boleh dibilang riding Minggu pagi ba’da Subuh ke lingkaran Cikeas -> Bukit Pelangi -> Puncak -> Cianjur > Cariu -> Jonggol hingga kembali lagi ke Cikeas merupakan santapan rutin 1x dalam sebulan dilakoni MX Strada guna mengukur sejauh mana performa New Jupiter MX dari waktu ke waktu. Feeling berkendara di rute tersebut penting diasah bagi EYD untuk simulasi rute sesungguhnya nanti saat long touring Jakarta – Medan.

Di hajatan solo riding weekend ini EYD sengaja ingin mengukur sejauh mana performa kanvas kopling New Jupiter MX yang sejak baru memang belum pernah diganti. Bersamaan juga dengan ingin mengetahui impresi sejak penggantian gear set 14/36 si MX Strada belum pernah diajak menanjak, so pengen tau impresi nanjak di Bukit Pelangi dan Puncak bagaimana. MX Strada memang dasarnya motor tangguh, gak ada persiapan khusus untuk melakukan solo riding lumayan jauh PP 180km, hanya memastikan oli, air radiator, busi dan karburator dalam kondisi prima alias tidak mepet dengan jarak jatuh tempo masa penggantian.

MX Strada

Yo wis dalam kondisi full standar secara mesin, EYD mulai menyisir jalanan menuju Bukit Pelangi. Saat memasuki Rainbow Hills Golf, aksi mencoba arena tanjakan Bukit Pelangi pun di mulai, ohya kalau arah berangkat tanjakannya gak terlalu curam seperti arah balik, aspalnya pun mulus sehingga bisa pede tarik dengan gigi 3. Tak lupa aksi ini EYD abadikan di video terlampir, mode riding adalah dengan boncenger. Dan hasilnya cukup menggembirakan bro sis, dengan sudut tanjakan kurang lebih 30 derajat beraspal mulus, si MX terasa ngisi dan nendang terus dengan posisi gigi 3, tercatat ditengah tanjakan sempat menyentuh kecepatan 60kpj.

Danau Bukit Pelangi

Lanjut maju ke depan menuju danau di Bukit Pelangi, arah balik tanjakannya cukup curam, antara 35-40 derajat beraspal bebatuan yang kasar pula. Ok, coba putar balik kali ini gak berbocengan karena sudah pasti kewalahan untuk testing performa. Dengan mode riding sendiri, EYD bejek sempat menyentuh di 50kpj pada gigi 2, terlihat torsi mulai melemah namun ayunan akselerasi bisa EYD pertahankan sehingga kecepatan tetap konstan di 40kpj dengan posisi gigi 2. Well, cukup puas menurut  feeling EYD, mengingat usia kanvas tidak lagi muda, plus gear set telah dimodifikasi tidak standar, berukuran lebih kecil yang pasti akan terasa lebih berat di tanjakan. Namun anehnya EYD gak merasakan signifikan perbedaan penggunaan gear 38 (standar NJMX) dan gear 36.

NJMX

Di Bukit Pelangi cukup sekian testingnya, lanjut melakukan uji coba performa kanvas kopling+gear set 14/36 melintasi tanjakan Puncak. Mode riding  kembali berboncengan, sejak tanjakan mulai Cisarua hingga finish di Rindu Alam Puncak Pas, EYD cukup puas dengan performa gigi 3 dan 4 tetap ngisi di tanjakan yang rata-rata memiliki kemiringan 30 derajat. Well, bisa EYD simpulkan setelah jarak tempuh yang dilalui sejauh ini (71.000km lebih) EYD tidak melihat perbedaan signifikan performanya dengan kondisi baru dulu, benar-benar surprise dengan kanvas kopling NJMX, plus sektor engine secara keseluruhan belum pernah dilakukan service besar tapi tarikannya masih bejaban dengan motor-motor baru. Sekian impresinya bro sis, monggo kalau ada yang mau bertanya seputar MX Strada.

Link HP

POPULER

18 Komentar

  1. satu hal yang bikin ane penasaran tentang Jupie MX ini masbro : Kompresinya kan luar biasa 10,9 : 1. Teori minumnya ya petramax plus. Apa jika minum di bawah itu akan ngedrop jauh performanya?

    • NJMX 2 tahun pertama minumnya Premium terus, tidak ada perbedaan signifikan feeling performanya dengan menggunakan Pertamax, tapi kalau minum Shell V-Power baru terasa bedanya 😀

  2. kata temen2 ane yg sudah ganti gear 14/36 itu tarikan awal lebih halus dan yg paling terasa itu nafasnya jadi panjang , top speed naik dikit

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*