Belajar menemukan keseimbangan di atas motor, seperti apa?

keseimbangan di atas motor

Halo Biker, ini adalah artikel dalam tematik safety riding, Elang ingin bahas tentang keseimbangan. Dari yang paling dasar dulu yuk kita gali, mungkin sobat biker ada yang bertanya, kenapa motor yang notabene hanya memiliki dua roda bisa seimbang berjalan tanpa terjatuh ke kanan atau ke kiri, apa yang membuatnya seimbang? Berbeda dengan mobil yang ditopang 4 roda, mobil bisa stabil walau dalam kondisi diam.

Nah dari pertanyaan yang paling mendasar inilah Elang akan kupas lebih luas lagi dalam kaitannya dengan penguasaan riding technique. Insyallah dengan paparan sederhana versi Elang Jalanan tentang keseimbangan ini, sobat biker bisa punya pengetahuan yang paling basic gimana motor itu bisa seimbang, baik motor dalam kondisi tegak lurus, motor dalam kondisi miring, bahkan motor dalam kondisi jengat sekalipun ternyata bisa didapat keseimbangannya. Ingat kata kuncinya, motor sampai kapanpun gak akan bisa stabil, tapi motor bisa dibikin seimbang.

Syarat terjadinya sebuah keseimbangan atau balance dalam berkendara motor itu ada 3 kunci.

  1. ada lintasan
  2. ada kecepatan
  3. ada distribusi bobot

Yuk mari kita kupas satu per satu agar lebih paham. Yang pertama adalah kudu ada lintasannya atau trek lintasan, bayangkan ketika motor jumping di udara, setang dibelokkan ke kanan atau ke kiri apakah motor bisa ikut belok? Tentu tidak sobat biker, dalam kondisi melayang, motor tidak akan bisa seimbang hingga ban kembali menyentuh permukaan jalan. Jadi kalau gak ada lintasan, mustahil motor bisa dibikin seimbang. Oke gampang ya, sampai disini cukup jelas pastinya.

keseimbangan di atas motor

Syarat kedua dalam keseimbangan adalah harus ada kecepatan, maksudnya gimana? Simpel, kenapa kalau motor dalam kondisi diam sulit sekali seimbang, bawaannya pengen oleng entah ke kiri maupun ke kanan. Jawabannya adalah wajar, karena motor belum diberi kecepatan, motor harus jalan dulu baru bisa seimbang.

modul safety riding
melewati papan keseimbangan yang suka bikin greget

Nah syarat yang ketiga ini yang mungkin perlu banyak-banyak latihan untuk memahami bahwa motor dalam kondisi apapun (kondisi tegak, miring atau jengat) bisa dibikin seimbang. Paling gampang coba perhatikan kenapa aksi-aksi free style, motornya bisa ngikut gitu kemana arah manuver si rider? Jawabannya adalah karena si Rider tahu betul gimana memposisikan distribusi bobot terhadap motornya sehingga didapat keseimbangan. Jadi kuncinya adalah setelah ada lintasan dan kecepatan perlu adanya distribusi bobot yang tepat terhadap motor.

Syarat ketiga berkaitan dengan riding posture yang benar, kalau riding posturenya masih salah, akan sulit menggerakan tubuh untuk menempatkan distribusi bobot sesuai dengan manuver motor yang sedang dilakukan. Jadi memang untuk point ini perlu banyak-banyak latihan dan praktek.

Counter Weight
figure: sport-touring.net

Baca juga: Riding Technique: Mau bisa cepat adaptasi menguasai handling berbagai tipe motor? Yuk kuasai teknik counter weight dulu

Oke ketiga hal tadi adalah basicnya, syarat mutlak agar motor bagaimanapun kondisinya bisa mendapatkan balance atau keseimbangan. Sekali lagi Elang tekankan, motor itu tidak bisa stabil, tapi bisa diajak seimbang. Ketiga syarat tadi adalah satu kesatuan, salah satu saja tidak terpenuhi sudah pasti motor sulit untuk mendapatkan keseimbangan.

Contoh lain, ketika menikung di tikungan cepat, kenapa gas harus dipantengin? Karena kalau gas ditutup, momentum gaya dorong hilang, imbasnya motor oleng. Jadi gas dibikin konstan agar ada kecepatan.

Begitupun ketika berbelok pelan di putaran sempit ala counter weight, motor rebah ke kanan ridernya condong ke kiri, distribusi bobot seperti ini untuk melawan berat motor sehingga ketemu titik balancenya ketika bermanuver counter weight.

Semoga artikel sederhana ini bisa membantu sobat biker dalam menguasai keseimbangan di atas motor, silahkan dikomentari semoga bermanfaat.

POPULER

7 Komentar

  1. Ada artikel juga lupa di mcn atau cycle world bahwa pembalap motogp cenderung fast-in dan gas ditutup sepanjang apex. Alasannya “to load the front tyre” dan memang disebutkan juga berbeda dgn di jalan raya dimana rider cenderung mantengin gas

  2. Latihan seperti itu tidak sepenuhnya berguna (buat pengendara kebanyakan pada umumnya) ketika di lapangan, emangnya kita mau maen sirkus pake slalom, atau mau lewat jembatan bambu musti latihan lewat balok segala. Tidak semua pengendara motor itu punya kemampuan sirkus seperti kalian Hai para instruktur bayaran. Yg berguna itu (kalo mau) latihan antisipasi pengendara yg selonong boy keluar gang, ada kucing nyebrang mendadak, atau kendaraan lain pindah jalur tiba2, mengerem di jalan yg ada butiran2 pasirnya, saat hujan, atau saat ada oli di jalan, kenapa? karna Hal2 seperti itu paling mungkin sering bakal ditemui dalam kehidupan sehari2, coba kalian latian melaju di jalan yg ada oli atau pasir lantas praktekkan cara ngerem kalian yg katanya tangan di stang semua gak boleh stand by di rem itu, bisa nggak, kalo ndelosoorr tanggung sendiri yaa, ngoahahahaha….
    latihan seperti yg ente sebutin diatas itu hampir useless karena tidak semua orang dibekali kemampuan sirkus macam kalian apalagi bagi ibu2 yg kepasar atau arisan boro2 mikirin keseimbangan bla..bla..blaa…, mikir utang aja udah pusing kok, ngoahahaha….

    • ini adalah salah bagian dari bab Defensive Riding, yang mas sampaikan itu ada di bab manajemen resiko, monggo mas telusuri terus kategori artikel defensive riding di blog ini 🙂

      Safety gear, riding skill saja tidak cukup untuk selamat, perlunya attitude dan sikap antisipasi di jalanan

      • masalahnya yg ente bilang itu kalo diterapkan di dunia nyata malah cenderung beresiko, seperti soal ngga boleh stand by jari tangan di tuas rem, iya kalo kejadian itu masih bisa kita awas sebelum terjadi, gimana jika tiba2 tanpa disadari, yg mengharuskan pengereman sesegera mungkin, tapi tangan masih mikir nyari2 tuas rem, yg ada malah keburu crash. karena tidak semua orang punya kemampuan sirkus seperti ente itu.
        kalo menurut ane sendiri ada 2 hal boleh dan tidaknya naruh jari di tuas rem:
        1. taruh di tuas rem disaat kondisi jalan lagi crowded, macet, atau yg rawan selonong boy rider.
        2. taruh semua di stang saat kondisi jalan lurus lempeng bin sepi.

  3. dan satu hal lagi, dulu sekitar tahun 2004/2005 Tabloid Motorplus sempat menulis artikel perihal taruh jari dituas rem, normal cukup dua jari, satu jari jika tangannya kuat. Motorplus kurang lebih menjelaskan dengan sederhana dan mudah dipahami bahwa kalo tangan stand by di tuas rem maka kalo mau ngerem lebih gampang, otak tak perlu mikir nyari2 dimana letak tuas rem berada. simple dan mudah dicerna. tapi yaahh… memang semua orang berbeda beda argumen.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*