Beranda Opini Motor zaman sekarang semakin kencang, responsibility biker harus makin matang.

Motor zaman sekarang semakin kencang, responsibility biker harus makin matang.

3

Fun Race CBR250RR Sentul

Halo Biker, berangkat dari blogwalking di 2 blog kondang Kobayogas dan bro Komeng Mind Genesis, Elang tertarik mengulas fenomena motor-motor zaman sekarang yang makin kesini romannya semakin kencang saja. Dulu Elang pernah mengira dengan peralihan teknologi motor-motor baru dari karburator ke injeksi tren performa motor akan semakin disunat gak segalak era karburator tahun 90-an, apalagi dengan regulasi emisi Euro bla..bla.tapi ternyata, wow..

Sejak keluarnya motor-motor real overbore dan motor dua silinder 250 cc terbaru yang gak perlu Elang sebutkan lagi, berbagai informasi di blog, sosial media sangat marak bahkan menjadi masif info-info seputar top speed, test performa, handling, dan sebagainya. Yang menjadi sorotan awal Elang adalah, waduh kok motor sekarang banter-banter tenan performanya.

Tentu masifnya sajian performa motor-motor terbaru ini di blog/sosial media ada kengerian tersendiri khususnya bagi biker yang ingin upgrade, yang kesengsem dengan performa aduhai motor-motor sableng ini. Loh kok ngeri? Nah itu dia khawatir makin banyak biker yang akan melakukan apa-apa yang menjadi poin penasaran dari sang motor berperforma seperti yang dia liat di video misalnya tanpa dibarengi kematangan mental.

Yang berbahaya adalah dengan maraknya video-video test top speed, cornering lah, motovlog lah sedikit banyak akan memberikan influence ke biker misal punya keinginan, nanti kalau sudah beli motornya gw pengen jajal top speed ah divideoin, bikin video cornering ah, bikin adu draglah..macem-macem yang kadang porsinya gak pada tempatnya di jalan raya, ini imbas dari masifnya informasi yang diterima biker akan performa motor-motor terbaru yang aduhai menggoda.

suzuki gsx r150 rx8

Oke kembali ke judul lagi, Elang sepakat dengan Bro Komeng yang Elang kutip tentang pentingnya kesiapan mental melebihi skill berkendara itu sendiri.

“Memang arah Penjenjangan sim C patut di support, akan tetapi menurut Gue bukan test teori dan praktek lagi harusnya. Itu tidak perlu lagi di test setelah seseorang memiliki sim C selama 2 tahun sebelumnya. Justru yang seharusnya di test pada sim C1 adalah psikotest tentang kedewasaan mental, bagaimana kemampuan berkeputusan secara rasional dan bertanggung jawab. Kemampuan akan memperhitungkan efek efek dari tindakan yang diambil, ya kedewasaan mentalitas, melebihi dari skill berkendara itu sendiri.

Maraknya pemberitaan raihan performa GSX-R150 maupun CBR250RR contohnya, pasti akan banyak mempengaruhi rasa penasaran khususnya yang mau naik kelas entah itu dari matic maupun cc kecil sebelumnya. Disinilah bahaya laten penyumbang kecelakaan bisa terjadi, biker yang belum siap mental dan kemampuan dengan pedang yang ada ditangannya, hasratnya ingin main sabet aja tanpa tau batasan, asal bejek motor bertenaga buas tapi gak tau cara mengendalikannya.

Beruntung CBR250RR yang punya tenaga buas itu dilengkapi dengan fitur riding mode, jadi biker yang mupeng sudah diubun-ubun tapi belum terbiasa dengan mesin 250cc bisa pakai mode Comfort untuk penyesuaian diri. Akhir kata pesan Elang seperti yang pernah saya sampaikan di artikel-artikel sejenis, “makin besar cc makin besar tanggung jawab biker di jalanan (high responsibility)”.

3 KOMENTAR

  1. Pemerintah sebagai regulator (polisi, kemenhub dan jajarannya) terkesan lamban menyikapi perkembangan teknologi (dan kemampuan daya beli masyarakat).
    Padahal cukup mengadopsi regulasi di negara lain, lalau disesuaikan dg kondisi Indonesia, seharusnya bisa kok mengendalikan hal spt ini.

    Thd pabrikan, bisa dibuat regulasi ttg power, kubikasi, atau lainnya.
    Thd konsumen, bisa dibuat regulasi seputar penjenjangan SIM, ujian pratek yg realistis, penegakan hukum di jalan raya yg tegas, dsb…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here