Apakah kita pendukung monopoli?

Marketshare Mei 2016 Pasar Sepeda Motor
pic: tmcblog.com

Kalau menurut kamus besar Bahasa Indonesia, monopoli adalah: monopoli/mo·no·po·li/ n 1 situasi yang pengadaan barang dagangannya tertentu (di pasar lokal atau nasional) sekurang-kurangnya sepertiganya dikuasai oleh satu orang atau satu kelompok, sehingga harganya dapat dikendalikan: pengusahaan minyak bumi dan gas alam adalah — pemerintah; 2 hak tunggal untuk berusaha (membuat dan sebagainya);

Jadi secara pendek monopoli itu soal penguasaan market share atas suatu barang. Dalam context roda dua, penguasaan pasar AHM secara jumlah unit yang dijual secara nasional pada April 2016 sudah mencapai 72.9%, sisanya, dibagi pabrikan “lainnya”, termasuk Yamaha yang masih mendingan dapa pasar sekitar 24%. Sisanya dibagi-bagi ada Suzuki, Kawasaki, TVS, Piaggio, total “sisanya” di luar duo Honda Yamaha, itu hanya dapat bagian 2%, gimana mau bersaing, survive saja pun sudah bagus.

Jadi kalau Anda berani punya motor selain buatan Honda atau Yamaha, Anda termasuk orang-orang aneh, karena yang beli motor tersebut cuman 1 dari 100 orang bro! Congrats! Hah?! Padahal, apa pentingnya juga menjadi 1 dari 100 orang? Jangan-jangan yang 99 orang itu yang milih secara bener dan pintar? Yang pegang Honda atau Yamaha mungkin bilang, ya derita lu dan (saya juga) lah bro, salah sendiri … bengkel (cenderung) sulit, suku cadang (cenderung) sulit, harga jual (cenderung) nge drop, tiap hari was-was juga kalau-kalau motornya tiba-tiba rusak, kenapa juga di beli toh? Salah siapa?

Bahaya monopoli yang paling utama yang paling sering di bicarakan adalah kemampuan produsen untuk melakukan pengendalian harga atau kontrol harga. Pembeli bisa di arahkan untuk mengeluarkan dana lebih besar untuk suatu produk atau jasa, artinya dana untuk membeli barang kebutuhan lain pun ikut tersedot. Pihak yang melakukan monopoli juga bisa punya margin sedikit lebih besar. Kok mau, beli barang mahal? Ya itu tadi, after sales bagus, ada dimana-mana, siapa saja pakai, nggak ada salahnya, satu paket toh.

Mirip dan berkaitan erat, bahaya monopoli yang kedua adalah kontrol produk yang berkaitan soal pengembangan dan teknologi. Contohlah skutik saat ini punya ban ukuran 14 inch, Vespa pakai ban 10/11/12 inch, coba saja cari ban pengganti. Mau gampang? Ya beli Honda, Yamaha, Suzuki. Bagi produsen tidak perlu memberikan inovasi, toh baranngya laku. Jangan sampailah kita kembali ke era pembaharuan itu sebatas ganti stripping – fitur unggulan: Design Stripping Sporty Dinamis!!! Design Stripping Agressive Look!!! WOWEEEE!

Bahaya yang ketiga, terakhir dan juga kesimpulan dari monopoli adalah, monopoli mengatur Anda. Sadar atau tidak, pilihan Anda dikendalikan dan kerucutkan oleh produsen, mirip yang dikenal dengan the illusion of choice (Hobson Choice). Kalau kompetisi sudah tidak real lagi, Anda – saya mungkin tidak akan punya pilihan lagi kecuali jadi ikut-ikutan.

A Hobson’s choice is a free choice in which only one thing is offered. Because a person may refuse to accept what is offered, the two options are taking it or taking nothing. In other words, one may “take it or leave it.”.

penjualan motor

Kalau dengar musik di radio mainstream, kita seperti di cekoki dengan tangga lagu itu-itu saja, film yang itu-itu saja, sampai-sampai sedang kalau dengar di audio mobil, kemudian mau masuk tol, buka kaca, seringkali si penjaga tol juga memutar saluran radio yang sama dan terjadi berulang kali. Padahal belum tentu juga pilihan lagu itu cocok untuk semua orang kan? Mana tahu? Bisa-bisa dari kecil sudah terbiasa.

Intermezzo: Pada tahun 2015 – 2016 beberapa pabrikan otomotif terpaksa harus “atur-atur” meresponse pasar ini bahasa yang halus, principal Ford terpaksa keluar dari Indonesia. Sebelumnya GM/Chevrolet pun sampai menutup pabrik, konon Indonesia sudah dikenal sebagai Toyota Republic, sampai-sampai segede Amerika pun bisa kalah saing di Indonesia. (Saranto)

GM Executive Vice President Stefan Jacoby, who oversees markets beyond the Americas, Europe and China, acknowledges GM got it wrong in going head-to-head with the Japanese in a market he dubs their “backyard”

POPULER

11 Komentar

  1. Di sini konsumennya demen ikut2an yg mainstream, jadi konsumen sendiri yg secara gak langsung mendukung praktek monopoli, tanpa disadari. Kebiasaan konsumen di sini yg demen memuja merk, fanatik merk, secara gak langsung membuka peluang bagi pabrikan utk melakukan praktek monopoli. Pelan tapi pasti itu akan terjadi, dan akan kembali ke era masa lalu. Lihat aja pergerakan AHM belakangan ini yg begitu bernafsu utk menguasai semua segmen, bahkan segmen motor garuk tanah pun mau disikat (baca: TMC Blog), RIP KLX. Menurut saya 5-10 thn mendatang AHM akan menguasai 90% market share di sini.
    Saya termasuk yg 2 % yg disebutkan di atas, krn bkn tipe konsumen yg gila merk atau demen ikut2an arus. Semakin banyak yg pakai produk tsb semakin saya hindari. Semasih dealer dan dukungan after-sales-nya tersedia saya “pasti” berani beli produk merk tsb. Bagi saya tiap merk itu punya citarasa masing2, dan saya suka meng-explore hal2 tsb. Jgn jadi manusia yg bagai katak dalam tempurung, yg suka beli barang merk itu lg…itu lg… move on man! Life is not flat, kata Agnes Monica, hahaha…

  2. Pasti bakal banyak yg komen dengan dalih bela yang lemah, bela yang minoritas.. Bela demi kebaikan Bleh bleh pdhal punya produk nya aja kagak wkwkkwkw…

    Belum monopoli.. Masih dominasi, tp jangan sampai lah monopoli.. Kalau ga mau monopoli beli motor barunya yg minoritas itu.. Jangan yg lama melulu dipiara, itu mah bantu apanya? Kasih bukti nyata dooonggg.. Dibeli dibeli bukan cuma cuap cuap… WkkwWkkw..

    • mau beli eh mesin sama feeling berkendara tetep itu2 saza, cuma ganti baju doang

      katanya kalau monopoli yg berkuasa bakal minim inovasi, laaaagh yg berpotensi jadi lawan berat saza lebih miskin inovasi

      ekekekekekekeke

      crot

    • Motor yang hasil dari minoritas katanya awet kok mang, makanya ndak beli2, padahal mah semua motor sama aja kali, sekalinya aja produk jelek,mampus dah tuh pabrikannya. hahaha.. Tapi tetep mereka semboyannya bela yang lemah, dukung yang lemah, pas disuruh beli, mlipir dulu…haha

  3. ada petinggi pabrikan yg ngejek rangka kandang piteknya cb dibilang ga stabil. eh bsknya tu kandang pitek dipake di motor 250 cc nya dua silinder. trus gw mst beli tu motor sementara otak petingginya aja pekok curut gituh? kl gw ga beli brarti membela monopoli? lah drpd ga bela pabrikan dgn petingginya somplak dan baperan.

  4. 1. AHM bisa memegang 70-an % pangsa pasar tidak dilakukan dalam waktu semalam
    2. Para pemegang keputusan di pabrikan selain AHM juga mestinya orang yg cerdas, mereka pasti sudah analisa kondisi bisnis akan spt ini sejak 1-2 thn yg lalu (bahkan lebih)
    3. Kalau ada satu pabrikan bisa memenuhi selera mayoritas konsumen, lantas mengapa yg lain terkesan sulit?
    4. Kalau ada satu pabrikan berusaha keras utk berubah, apakah berarti pabrikan lainnya sulit/tidak bisa berubah? (paradigma)

  5. Pada akhirnya seberapa kuat uang yang dapat dikeluarkan oleh pabrikan tersebut, semisal untuk dapat membuat produk baru, untuk research pengembangan produk baru, membuat diferensiasi produk, pabrikan juga harus mau mengikuti keinginan pasar, karena sebuah pabrikan dituntut untuk dapat memuaskan konsumen dengan menyediakan beberapa produk so pasti agar konsumen dapat memilih produk yang di inginkan, dan pabrikan pastinya harus dapat mengeluarkan uang yang banyak untuk mempromosikan produknya. Nah klo sebuah pabrikan cuma setengah setengah dalam mempromosikan produknya, plus tidak adanya diferensiasi produk…..yowesssss, selamat berjuang

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*