Idealnya alokasi budget untuk BBM tidak lebih dari 10% pendapatan

wajib pertamax

Menyimak beberapa ulasan dari  Blogger tentang penggunaan BBM non subsidi, EYD jadi tergerak untuk mengulasnya secara khusus dalam artikel ini. Untuk ulasan awal EYD setuju bahwa Pertamax untuk golongan yang ‘mampu’ sedangkan Premium untuk golongan ‘tidak mampu’. Yang menarik disini adalah bagaimana kita memposisikan diri saat ini berada di posisi mana, mampu atau tidak mampu? EYD sendiri lumayan bingung menentukan posisinya berada dimana, dimana..dimana (Ayu Ting Ting). Nah untuk mudahnya coba kembalikan ke patokan pendapatan/kemampuan finansial bro sis sekalian.

Walau secara teknis setiap biker kudu sadar diri dengan spesifikasi tunggangannya, kompresi tinggi ya kudu minum pertamax, kompresi rendah monggo minum Premium. Tapi kadang disinilah uniknya konsumen Indonesia, maunya motor berperforma tinggi, tapi minumnya kalau bisa premium. Yo wis EYD gak bahas masalah teknis ini, tapi lebih tentang kesadaran disesuaikan dengan kemampuan finansial. Jangan sampai kita tau posisi kita mampu, tapi dengan sadar masih aja ngambil haknya orang lain (bbm bersubsidi, red).

Sebelum mengklaim angka 10% ini EYD coba menghitung-hitung simulasi konsumsi BBM rata-rata motor harian. Ada 2 versi simulai yang dilakukan, pertama simulasi biker yang memiliki jam terbang tinggi dalam arti saban hari jarak tempuh tunggangannya lumayan nampol, yaa EYD bisalah dijadikan model simulasi yang saban hari menempuh 100km PP. Yang kedua simulasi biker yang lebih normal dan kebanyakan dengan pencapaian jarak tempuh tidak lebih dari 50km per harinya.

MX Strada yang EYD gunakan untuk harian, setiap harinya butuh BBM (sementara ini Premium) 2,4 liter buat menempuh 100km PP. Sejak tambah beban Sidebox MX Strada memang relatif agak boros cuma mampu 40km per liternya. Jika diuangkan biaya BBM setiap hari keluar Rp. 11.000 dari kantong. Kasarnya dalam sebulan berarti keluar biaya untuk BBM kurang lebih Rp. 11.000 x 30 = Rp. 330.000. Bagaimana jika BBM diganti menjadi Pertamax? Maka 2,4 liter setiap harinya x 9.500 (harga mungkin variatif) = Rp. 22.800. Sebulan berarti Rp. 22.800 x 30 = Rp. 684.000

Berikutnya coba kita simulasikan dengan biker kedua dengan jarak tempuh yang lebih normal 😀 Anggap PP kantor rumah 40km + 10 km urusan kesana kemari diluar urusan ngantor. So si biker hanya menempuh 50km setiap harinya. Lalu anggap tingkat keiritan tunggangannya sama dengan biker pertama tadi yakni 40km per liter. So butuh biaya BBM Premium setiap harinya kurang lebih (50km / 40) * 4500 = Rp. 5625 Berarti dalam sebulan Rp. 5625 x 30 = Rp. 168.750. Bagaimana jika BBM diganti dengan Pertamax? Tinggal kalikan saja (50km / 40) * 9500 = Rp. 11.875, untuk sebulan berarti Rp. 11.875 x 30 = Rp. 356.250

Disini terlihat memang pengeluaran biaya untuk BBM kedua biker tersebut berbeda 2x lipatnya disesuaikan dengan jarak. Sekarang baru kita coba komparasikan keduanya siapa yang termasuk golongan mampu dan mana yang tidak mampu. Anggap penghasilan keduanya sama, mereka memiliki pendapatan Rp. 3.500.000,- per bulannya, so 10% dari penghasilan mereka adalah tidak lebih dari Rp. 350.000. Biker pertama dengan mengkonsumsi premium kudu mengeluarkan uang Rp. 330.000 setiap bulannya, sisanya 20rb bisalah untuk beli Pertamax sekali-kalinya untuk sekedar ‘mencuci arang’. Namun biker pertama ini akan terasa berat dan tidak mampu jika harus mengkonsumsi Pertamax setiap harinya, angka Rp. 684.000 bukanlah angka yang kecil bagi biker dengan besar pendapatan seperti di atas. Dan angka tersebut sudah melewati jauh dari angka ideal 10% alokasi budget yang EYD paparkan disini. Ya sama-sama taulah biker juga manusia, banyak kebutuhan lainnya selain hanya buat ngurusin dan merawat motornya, ya anak, ya istri, etc itu butuh ada mapping budgetnya juga. So menurut EYD 10% dari pendapatan itu sudah ideal untuk alokasi konsumsi BBM setiap bulannya.

Lanjut ke biker kedua mari kita cermati. Dengan pendapatan yang sama ternyata biaya yang dikeluarkan untuk tetap mengkonsumsi BBM Pertamax setiap harinya tidak  lebih dari angka Rp. 356.250. Nah angka ini masih dalam toleransi budget 10% dari pendapatannya. So biker kedua ini secara finansial bisa dikategorikan mampu (versi EYD). Sekarang tinggal kesadaran biker tersebut aja apa tetap ngotot antri di BBM Premium dengan alasan agar lebih hemat. Ya kalau secara etika sih, mosok yang mampu ngambil haknya orang lain yang gak mampu, hm..hal-hal seperti ini yang sering EYD renungkan. Kita berada di posisi yang mana, yaa sebagai ikhtiar awal, yuk kita coba ambil barometer kemampuan kita cukup dari 10% pendapatan kita. Jika minum Pertamax tapi melebihi budget 10% maka bro sis belum wajib, tapi jika minum Pertamax masih lebih kecil dari budget 10% yo seyogyanya teruskan minum Pertamaxnya. Atau ada bro sis sekalian yang punya opini lain untuk menentukan masuk kelompok mana kita? Monggo masukan dan komentarnya yang mencerahkan.

POPULER

7 Komentar

  1. menurut saja… 10% buat bbm… masih telalu besar… seharusnya 10% itu total kebutuhan transportasi… jd klo itu udah masuk kedalam perawatan motor + bbm…

  2. Selama harga pertamax lebih murah dari total ngeteng angkot.. tolong pake pertamax lah.. orang yg ga mampu nyicil ,motor aja keluar duit lebih buat ngehemat ngebakar bbm perliter bareng2…

  3. ada premium yg murah kenapa beli yg mahal??
    premium untuk gol yg tidak mampu yg bagaimana??
    yg gak mampu kebanyakan pada gak punya motor (ya iya lah,, kalo punya motor berarti mampu,,)

    kalo pertamax harganya 7000,, pasti gw ngisi pertamax..

  4. waaaaa,, asemmm
    ane aja sebulan minim butuh 300rb buat bensin doang mas, maklum lokasi agak jauh dari rumah,,
    kayanya harus segera nambah income nih biar jadi maksimal 10% dari pendapatan, hehehe….
    sementara masih lebih dari 10% nih.. dungane yooo

  5. Wew mahal banget buat bensin 300rb.
    Alhamdulillah jarak rumah ke tempat kerja saya cuma 1 km (agak macet-macet dikit karena lampu merah). Bensin premium + octane booster habis kira-kira 12rb untuk 1 minggu. Termasuk boros juga sih kalau dihitung-hitung, maklum karena motor saya bore up’an. Tapi kebantu jarak rumah yg dekat.

1 Trackback / Pingback

  1. Coba beralih ke BBM non subsidi (Pertamax) » Warung Sejutaumat

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*