Riding Habit: Sama-sama nyaman, tapi hanya satu yang aman


Jari tidak standby di rem depan

Halo Biker, “bisa karena biasa” itulah kata pepatah yang selalu kita dengar, semua pekerjaan bisa dilakukan karena sudah terbiasa. Faktor kebiasaan inilah yang membuat segala sesuatunya menjadi terasa nyaman. Salah satunya adalah gaya riding yang kebentuk sejak pertama belajar motor hingga sekarang yang terus menerus dilakukan, sadar gak sadar telah memberikan rasa nyaman ke kita.

Tapi tahukah sobat Biker semua, kondisi nyaman belum tentu aman, begitu juga sesuatu yang lebih aman awal-awalnya ketika dicoba akan terasa kurang nyaman. Begitu juga dengan salah satu sikap riding berikut ini.

Ada 2 golongan tipe pengendara dalam memposisikan jarinya di handle motor, yang pertama yang menaruh jarinya sebagian standby di rem depan, ini hampir mayoritas biker yang punya kebiasaan seperti ini. Golongan kedua yang mengepal handle motor secara sempurna, tidak ada jari yang standby di rem depan.


Nah tahukah sobat biker, bahwa kebiasaan menaruh jari standby di rem depan itu menyimpan potensi bahaya dalam berkendara? Apalagi jika dikombinasikan dengan kebiasaan biker tidak menggunakan pandangan jauhnya, hanya melihat kebawah terus sepanjang jalan. Bahayanya dimana?

Ketika pandangan ini gak siap dengan apa yang terjadi di depan, akibat nunduk terus atau hilang fokus ke jalan, umumnya biker akan kaget dan berimbas gerak reflek dari anggota badan. Nah saat reflek, jari yang kadung standby di tuas rem depan secara otomatis tanpa perintah otak akan menarik rem depan dengan sangat kuat hingga rem depan mengunci. Hasilnya bisa ditebak, roda depan selip dan kalau sudah roda depan yang slide gak ada kesempatan lagi bagi kita untuk koreksi kesalahan tersebut. Akhirnya motor pun jatuh atau menabrak objek di depan karena gagal melakukan pengereman.

bahaya jari standby di rem depan

Berbeda kasusnya dengan rem belakang, ketika roda belakang slide atau selip akibat rem belakang terkunci masih bisa dikoreksi kesalahan tersebut dengan control dari roda depan.

Kembali ke judul awal, dua golongan ini sama-sama merasa kebiasaannya selama ini nyaman-nyaman saja. Golongan pertama merasa nyaman kalau jari nempel di rem depan dengan persepsi lebih pede jika sewaktu-waktu butuh pengereman tiba-tiba, alasan lainnya menurut golongan ini lebih mudah mengontrol putaran gas kalau jari nempel di rem. Elang sebagai pemerhati keselamatan berkendara mencoba memposisikan diri di golongan ini, dan memang sekilas ada benarnya alasan ini, namun kenyamanan tidak serta merta menjamin keamanan, bahaya reflek siap mengintai sepanjang jalan jika kehilangan fokus berkendara.

Jika alasannya agar pede, lebih baik lagi pandangannya ke jalan yang perlu dilatih lagi agar punya pandangan jauh kedepan sehingga bisa melihat berbagai potensi bahaya yang ada lebih awal. Tidak ada istilah tiba-tiba atau mendadak, karena dalam kaidah berkendara yang aman tidak ada namanya pengereman tiba-tiba, pengereman adalah pekerjaan yang direncanakan dan terencana.

Elang pribadi pun sama awalnya termasuk golongan yang pertama selama belasan tahun, menempatkan jari standby di rem depan. Begitu tahu referensi yang benar dan aman, mencoba menerimanya dan memang agak kagok untuk mencoba merubah kebiasaan yang sudah bertahun-tahun tercipta. Namun gak lama, hanya butuh seminggu untuk pembiasaan ini dibarengi dengan latihan membiasakan pandangan jauh kedepan.

manfaat jari tidak standby di rem depan

Hasilnya, setelah setahun lebih kebiasaan jari tidak standby di rem depan, ketika sesekali mencoba lagi ke kebiasaan semula menaruh jari di rem depan sambil riding, rasanya menjadi aneh dan kagok, dengan jari berada di tuas rem kualitas riding pun jadi berkurang karena pergelangan tangan jadi cepat pegal.

Dari tulisan ini Elang mau sampaikan, bahwa sesuatu referensi baru itu patut untuk dicoba, apalagi jika mengajarkan referensi yang benar dan aman menurut mayoritas penggiat safety riding yang selalu mensosialisasikan hal ini. Awalnya memang kagok dan merasa janggal, tapi yakinlah sesuatu itu “bisa karena biasa”.

Yuk hilangkan kebiasaan jari standby di rem depan, kenali bahaya reflek saat kehilangan fokus berkendara. Genggam sempurna handle motor dan tambahkan kebiasaan pandangan lebih jauh kedepan selama berkendara.

Untuk sobat pembaca silahkan dicoba selama seminggu dan berikan feedbacknya kembali di kolom komentar tulisan ini 🙂

Semoga bermanfaat.


Silahkan bersilaturahim dengan saya melalui channel media lainnya:
Hosting Supported by: Serverumat.Com
Web Blog : http://elangjalanan.net
Other Blog : http://elang.otojurnalisme.com
Email : staffti[at]gmail.com
Facebook : https://www.facebook.com/elangjalanannet/
Twitter : @yahmawan
Instagram: @endrikelang
Subscribe Youtube:
Defensive Rider

Advertisements

14 Comments

  1. Bukan berarti “salah” loh ya, Semua tergantung medan yang dilalui. Ketika tangan standby di tuas rem, maka respon yg dibutuhkan jauh lebih cepat dibandingkan meraih dahulu tuas rem. Ini sangat krusial sekali buat memperlambat kecepatan dalam kondisi lalu lintas padat, walaupun cuma beda sepersekian detik. kalau telat yah nyelonong deh. Lain cerita bila jalanan lowong tanpa hambatan berarti. Pengalaman soalnya.

    • Nah ini juga salah satu yang menjadi perspektif sebagian orang. Pengalaman saya setelah berubah kebiasaan, pernah ketika mengalami kaget, jari yang tadinya tidak standby bisa reflek meraih tuas rem depan tanpa kesulitan, proses ini terjadi sepersekian detik.
      Walau reflek tapi efeknya tidak sampai menekan tuas rem depan berlebihan

  2. jujur saza kang endrik, sy jg tadinya jari selalu stand by di tuas rem, semenjak tau artikel ini jadi sdh tdk stand by lagi. skrg lbh sering manfaatkan engine break dan rem belakang, dulu yg biasanya 10m dr lampu merah baru ngerem, mungkin skrg 30m sdh menurunkan kecepatan, tapi tetap sy pake rem utama buat berhenti total 😀

    kalo menurut sy pribadi, maksud dr teknik ini adalah untuk lebih dapat menjunjung tinggi faktor keselamatan dan menghargai tenaga motor itu sendiri, kenapa? jangan mentang2 ada rem trs naik motor boleh serabat serobot dong… woles aja bawa motornya woy 😁

    satu lagi, soal pandangan yg harusnya melihat jauh kedepan, dulu sy naik motor juga seringan melihat kebawah 20m+ lah, semenjak trauma karena ketilang polisi (polisi nya jauh didepan kaga kelihatan) walhasil sekarang udah waspada dan selalu berusaha lihat 50m+ kedepan… 😂

    terima kasih kang endrik atas ilmunya, ane juga jadi faham safety riding karena bermula dari blog ini 😇 sukses ☕

    btw bagaimana spy bisa jadi safety riding instructor?😐

  3. waktu awal make motor, jari selalu stand by di tuas rem. seiring waktu, entah sejak kapan, skarang jari jari selalu full genggam grip gas. dan trnyata yg full genggaman itu yg bener ya. hehe syukur deh udh punya riding habit yg nyaman dan aman.

  4. Soal yg tangan alhamdulillah ud bisa. Tinggal yg rem di kaki neeh. G tau gimana reflek pas nikung pasti kaki masi sambil injek rem dikit. Biasanya kalo paje bebek kaki tak taruh di atas mesin/ dek tengah, buat pembiasaan aja sih. Tapi pas posisi kaki dibalikin lagi kok ya masi ngerem jg. Hmm
    Kudu sekolah lg neeh

    • Dilatih lagi agar ngerem selalu sebelum masuk tikungan, estimasi kira-kira berapa speed yang aman di setiap tikungan, kadang rem belakang dipake dikit buat kontrol traksi ban belakang ketika nikung

  5. ane salah satu driver ojek online dari bandung, pernah dapet pelatihan safety riding juga, termasuk mengenal kebiasaan yang salah dalam berkendara bermotor menurut panduan mereka mentor, salah satunya ya menaruh satu dua jari di tuas rem depan. kebiasaan ane menaruh setidaknya satu jari di tuas rem dan alhamdulillah dari semenjak belajar berkendara motor belum pernah mengalami hal – hal buruk karena “kebiasaan salah”. awal – awal setelah pelatihan ane nyoba biasain deh tuh, seluruh jari di genggam handle gas. walhasil, suatu waktu pernah nubruk angkot yang berhenti mendadak dari belakang yang membuat spakbor depan ane pecah, karena saat hendak meraih tuas rem, jari tangan ane nyangkut dulu di bagian bawah tuas rem, sehingga memperlambat respon untuk segera mengerem. semenjak kejadian tersebut, ane kembali lagi ke kebiasaan semula, menaruh setidaknya satu atau dua jari di tuas rem.

    • kebiasaan jari full di throttle dibarengi dengan pembiasaan pandangan jauh kedepan agar tidak ada lagi namanya pengereman mendadak atau tiba-tiba

    • pengalaman hampir mirip saya rasakan. Dulu itu saya termasuk orang malas, jadi jari nggak ada yang standby di tuas rem. Setelah mengalami hampir celaka beberapa kali, akhirnya jadi lebih sadar untuk menaruh jari di tuas rem.

      mas elang baru cuma satu tahun, mungkin belum merasakan sendiri.

      Sekali sekali disimulasikan, latihan rem mendadak dikode sama orang lain. Lalu cek mana yang lebih cepat dan lebih akurat responnya.

  6. Saya mau tanya, reflek orang mudah panik bila tidak menaruh jari di tuas rem itu bagaimana? Kasus di motor matik. Yang saya tahu itu refleknya:
    – langsung menggenggam, lalu gerayah gerayah cari rem. Kalau nggak nemu, maka kaki yang turun sambil teriak teriak. Biasanya sih ini ibu ibu.
    – kalau pas ketemu, bakalan lebih susah mengatur tenaga, karena posisi jari di tuas rem susah untuk bisa ideal, sebagai akibatnya bakal kelebihan, ban depan ngelock, syukur syukur bila tidak langsung jatuh

    Kalau memang benar orang itu mudah panik, dan refleknya menggenggam, solusinya mudah, yang ditaruh di tuas rem cukup satu jari saja. Masa ya ngerem pakai satu jari bisa membuat ban depan ngelock?

    Kalau orangnya mudah panik, justru dengan menaruh jari di tuas rem itu yang lebih aman. Kalau tidak menaruh jari, malah bisa sama sekali tidak rem atau ngerem berlebihan.

    Apa memang selama belasan tahun menaruh jari di rem depan pernah mengalami ngerem berlebihan? Kalau iya, solusinya gampang, kalau ngerem dahulukan rem belakang.

    https://kupasmotor.wordpress.com/2017/01/20/walau-instruktur-safety-riding-melarang-kenyataannya-kebiasaan-meletakkan-jari-di-rem-itu-justru-lebih-aman/

  7. kl menurut saya sih masih aman jari yang stanby, kalo masalah ban ngunci itu mah tinggal cara ngeremnya aja, kalo ngeremnya dikocok2 (rem lepas rem lepas mirip cara kerja ABS) gak bakalan ban depan ngunci walau kecepatan tinggi

    • Kalau dalam kondisi sadar iya masih bisa terukur pengeremannya, tapi dalam konteks kaget karena sesuatu terjadi tiba2 didepan itu yg bekerja adalah alam bawah sadar, gerak reflek jari adalah bejek tuas rem sejadi-jadinya

  8. Kalau jari tidak standby di tuas, reflek ngerem bakal kalah cepet sama rem belakang di mana kaki udah standby di atas pedal rem. Kalau jari standby di tuas, reflek ngerem depan dan belakang jadinya bareng, dan itu jauh lebih aman daripada keduluan rem belakang. Karena saya pernah jatuh gara-gara keduluan rem belakang. Sejak itu saya tidak pernah melepaskan jari dari tuas rem. Untuk trip 100km nyaman-nyaman aja.

1 Trackback / Pingback

  1. Ini riset yang menunjukkan ngawur dan bahayanya ajaran safety atau defensive riding mendahulukan rem depan dan melarang menaruh jari di tuas rem | Mengupas soal motor

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*